CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Juni 2015

Dirusak Kecerdikan Semu



Taktala jarum jam terus bergulir
Mengejar kedeewasaan hati dan moral
Pada tiap-tiap jiwa muda penuh asa
Yang terus haus akan sebuah keberhasilan

Mereka terus menggerong menantikan sukses datang
Disambut indahnya mentari setiap pagi di sekolahan
Namun, energinya cepat habis disedot kehampaan
Mereka tak mau tahu semua harus bisa terus berjalan
Menyusur semua rintangan yang banyak menghadang

Tak mau pikir rumit lagi, tak mau pikir sulit
Sudah cukup banyak tekanan yang rasanya mereka dapati
Sekalipun baterai mereka masih mampu menopang puluhan tahun lagi
Mereka tak mau ambil repot
Tapi mereka mau berpikir lebih dalam hal licik
Untuk suatu kecerdikan yang terkelabui oleh suasana tenteram

Tak tahu dari mana asalnya, darimana yang mengajari
Siapa dalang atau sang promotor di bidang ini
Rasanya virus ini mudah sekali menulari
Mudah sekali merusak onderdil asli
Sehingga jiwa-jiwa yang terus dilumasi tak sulit lagi dikorosi

Mereka menganggapnya sebagai suatu kecerdikan
Tetapi alim bilang ini kelicikan
Namun tetua bilang ini sudah jadi kebiasaan
Lantas, bagaimana seharusnya tindakan mereka ini?

Dunia yang hanya bisa menjawabnya
Dengan lonceng waktu yang ingin terus berdentang
Dengan mentari yang masih selalu dinanti
Oleh mereka yang tak aus akan keburukan ini

Maka yang bertahan dalam darurat ini hanya segelintir
Dari mereka-mereka lain yang mampu manjaga aslinya
Hanya segelintir lagi dari mereka yang mau menjaga aslinya
Karena kesempurnaan sejati, kebenaran dan keagungan abadi
Memang hanay ada sedikti dalam suatu piramida
Menempati puncaknya terus unggul dan berbakti
Pada Tuhan Maha Pengasih dan Penyanyang
Mereka yang senantiasa diberi bukan sekadar polesan dan pelumas biasa
Namun, pancaran iman dan taqwa
Yang semoga terus terjaga hingga akhir zaman kelak





Yogyakarta 14 Juni 2015 

Karena Ku Sedang Ingin dan Butuh

Hati ini pernah terasa kering,
Seiring kemarau yang datang terlambat dipanggil
Hati ini terasa kerontang
Butuh kesegaran namun tak sekadar cairan
Kasih sayang tak sekadar pelukan
Melainkan perhatian dari seorang lain yang senantiasa membayang

Memang tidak rutin seperti ibadah shalat
Atau acara bulanan seperti arisan
Namun, rasa-rasa ini adalah rasa ketika kita butuh perhatian
Dan ketika itu pula fitrah seseorang semakin terbuka
Menunjukkan rasanya kasih sayang, cinta, dan rindu merenda
Pada seseorang yang telah lama terpisah
Namun memendam memori kebahagiaan
Kebersamaan di masa lalu
Yang terus dan tak ingin terhenti
Meski ini semua tak pasti terjadi

Inilah kisah romansa yang tak istimewa
Namun, penuh dengan rasa dan asa
Semua pasti bergulir pada waktunya
Di saat kita memang sama sedang mementingkannya
Untuk sekadar melepas penat
Untuk sekadar membuang peluh dan gelisah
Karena meski hanya sekadar tatap aksara
Tetapi terasa sangat berarti
Dalam menyampaikan sinyal-sinyal kiasan
Kelembuatan hati yang senantiasa ingin terpancar
Dua sijoli muda yang tak tahu
Entah dimana ia akan berpangkal
Mereka masih punya banyak waktu
Untuk menentukan
Tuhan yang telah merajut rencana-Nya

Biarkan mereka terus mengalir
Larut dalam kebahagiaan dan kehidupan
Larut dalam suka mereka bercengkerama
Meski hanya sesaat tak terus-menerus
Tetapi buat mereka bahagia dan dekat
Buat mereka semakin bergairah
Melanjutkan perjalanannya kembali
Meraih mimpi-mimpinya lagi
Hingga suatu saatnya nanti
Rencana Baik itu pasti akan menghampiri





Yogyakarta 14 Juni 2015 

Minggu, 26 Oktober 2014

Secepat Mega Menghilang

Seperti menembus awan kau begitu cepat datang dan menghujam
Entah kapan awan itu mulai terbentuk
Tapi, kau datang padaku bagai mega penyejuk
Mega yg diterangi matahari
Semua itu terasa menyinari matahati

Mega yang tulus selembut teksturnya
Mega indah mengangkasa raya
Setiap tatapan seakan tawarkan senyuman
Kebahagiaan dalam jiwa setiap yang memandangnya

Pagi bersilih sore, waktu-waktu berganti
Masih terasa hangat dirimu
Hangat menyangat, menumbuhkan perasaan ini
Tak mau terburu, ku terus  menikmati

Awan-awan itu bangkitkan angan-angan
Tuk melambung lebih tinggi dan terlepas dari gravitasi
Namun, sebelum mega ku ayunhkan
Mendung telah membendung sirnakan keinginan

Tak ada lagi kecerahan
Langit hanya membiru tanpa corakan
Kau tanpa sadar menghilang
Dengan kegembiraan yang dulu kurasakan

Mega tak berlekuk lagi, tak menjadi semegah awan cumulus lagi
Karena kini kau telah terbawa awan nimbus
Seiring perasaan cinta yang mulai pupus

Senin, 30 Juni 2014

KHAYAL DAN NYATA

Jika kau merasa khayalan akan menjadi kenyataan
Maka temukanlah khayalan itu pada berkas rerumputan
Rapuh karena terbakar
Hitam berabu sangat tebal

Namun, jika kau merasa khayalan itu akan jadi kenyataan
Kau dapat pula terima setangkai mawar penuh pesona
Kebanggan, harga diri, dan keelokannya terpancar pada setiap kelopak merahnya
Sebuah tanda dari seluruh asa yang telah dikerahkannya
Hingga mencapai angan yang dulu diimpikannya

Khayalan adalah suatu fantastis belaka
Kau bisa seruapakan dengan roman, fiksi, yang menyayat hati
Kau bisa pula samakan dengan kuda terbang, cerita peri, atau 1001 malam
Jalan khayalan adalah hak mu dan kepunyaanmu itu kau sendiri yang tentukan
Kau bisa reka alur indah dengan mudah
Atau kau mencoba beralur buruk dengan segala spekulasi terpuruk

Kenyataan adalah kejadian pasti, tak mungkin terubah dan diubah
Khayalan tak jarang berubah jadi kenyataan
Baik atau buruk semua kemungkinan khayalan akan terjadi
Maka khayalkan sesuatu yang mungkin, renungkanlah setiap waktu
Tak jarang itu akan jadi tombak bagi dirimu
Untuk mengubahanya menjadi suatu kenyataan

Sabtu, 28 Desember 2013

Semarak Goyang, Hilangkan Penat Negeri

Seiring pesta demokrasi dimulai
Seiring dengan ramianya berita negeri ini
Seiring dengan banyak persoalan yang terjadi
Seiring pula acara hiburan mengalami mutasi

Hiburan layar kaca sedang berubah
Ke tayangan hiburan yang juga memberi  wadah
Bagi musik rakyat, dangdut yang dulu belum terjamah
Oleh manusia modern yang gampang naik darah

Ringan, asyik, menghibur dan sederhana
Tapi meriah dan dan buat hati bungah
Lupakan gelisah dan masalah
Lupakan gengsi dan segala kesal hati
Mari bersama-sama kita berjoget gembira
Iringan musik rakyat irama super gila

Joget-joget mudah dan semua orang bisa goyang
Anak-anak, orang tua, hingga kakek nenek
Ramaikan kemeriahan sederhana ini
Dengan tarian khas Indonesia miliki

Ayo digoyang-digoyang bang
Ayo digoyang-digoyang neng
Bang Jali-bang Jali goyangnya bikin hepi
Begitulah lirik-liirik dangdut pengiring goyang ini
Hingga istilah-istilah goyangan yang buat ini makin terkenal
Goyang Bang Jali, Caesar, sampai yang bernama oplosan
Semua menggabungkan musik rakyat dan tarian energik yang mudah
Semua orang bisa tirukan, semua orang bisa ikut goyang

Seiring goyangan populer
Seiring pula politik tak diperhatikan
Bahkan menjelang pemilihan presiden
Semua orang cuma bisa ambil pasrah
Yang penting semua bisa ikut goyang
Asal tak menggoyang kedemokrasian

                                                Yogyakarta, 26 Desember 2013
Menuju Pemilu 2014

Marak-maraknya acara goyang di televisi 

PANTURA

Deru menderu mobil ramaikan jalan
Roda-rodanya yang kuat seakan tak mau kalah
Dari cepatnya roda waktu berputar
Kilauan sinar lelampuam
Tambahkan suasana terang
Pada jalanan hasil kerja rodi
Dari Deandles-lah ini jadi
Sekarang manusia tengah menikmati
Belahan alam pengubung sejati
Antara Anyer-Panarukan
Antara barat dan timur
Dan kini menyisir senja
Ku kejar surya di ufuk sana



Jalan Raya Pantura Demak-Semarang
18.10 WIB

Warung Makan MT. Haryono Semarang

Deretan lesehan warung makan sederhana
Nasi ayam, olahan nasi khas semarang
Lunpia kudapan khas kota sudirman
Hingga bubur kacang hijau, langganan banyak orang
Semua tersaji di kiri-kanan
Jalan M.T Haryono Semarang

Ramai meriahlah suasana matang
Harga kantong rasa tak ketinggalan
Berbagai kalangan lahap kenyangkan lapar

Tak urung niat para jutawan
Aplhard, Mercedes, mobil hatchback hingga Jeep
Semua hiruk pikuk penuhi pinggir jalan
Tak ada hal yang beda-bedakan
Semua bisa ikut makan

Tak kala kuliat orang-orang Chinese berdatangan
Gaya mereka yang khas, koko dan para cici semarang
Menikmati sajian-sajian lezat rakyat semarang
Dalam kesederhanaan penuh kenikmatan

Semarang, 25 Desember 2013



Dua Hari Libur Natal

Pagi-pagi itu mendung absen dari kedatangan di musimnya kini
Mentari cerah meramahkan sinarnya yang hangat
Warga desa bergegap gempita
Menyambut pagi yang cerah dengan segala rencana yang ada
Menikmati 2 hari libur natal, yang jauh dari biasa

Kulihat para ayah
Menyibukkan diri
Dengan memanjakan anak-anaknya
Menyenangkan mereka dengan penuh kasih sayang
Melepaskan rasa rindu mereka saat berkelut dengan pekerjaan
Membuang jenuh pikiran mereka
Dan mengusir penta di kepala
Dengan bercengkrama bersama
Di hari libur natal istimewa


25-26 Desember 2013 

Kamis, 12 Desember 2013

Langkah Menuju Barata 2013

Kokoh kakimu jadi kekuatan
Ditumpu tekad dan pengorbanan
Kau berani mengambil arus yang deras
Dalam aliran sunga penuh kelokan
Terjal dalam gelap adalah sebuah tantangan

Keberanian menang melawan ketakutan
Kau tak kan pernah sendirian
Alan akan jadi sahabat
Anomali akan jadi kawan
Spekulan-spekulanulung akan muncul
Siap sedia dalam menanggapi perkiraan

Puisi ini menceritakan latar belakang dan langkah awal tim Barata SMA 1 Pakem dalam pengembaraan akhir tahun kabupaten Sleman. Mereka akan menyusuri jalur selokan matara yang sekarang masih ada yang berupa sunga-sungai liar. Semoga tim Barat bisa selalu survive pada setiap keadaan dan selalu siap sedia dalam menghadapi segala tantangan.

Pertahankan Juara Umum!

Sukses selalu tim barata :)

Sabtu, 19 Januari 2013

New Idea


Adsfghjklpoiuytrrewqzxcvbnm,
Cukup sudah huruf sia-sia memenuhi coretan
Hai aku sekarang di sini
Di puncak kekautan yang tengah kubangun untuk benteng pertahanan
Maka pergilah kau hawa nafsu dan amarah
Aku sekarang berdiri dengan teguh dan gagah
Aku sekarang punya strategi
Aku akan tetap berlari
Dengan gerakan lurus beraturan
Tak masalah tak percepat
Tetapi lebih baik daripada perlambat
Akan kuusahakan sebaik mungkin
Sekuat menara yang telah kubangun
Setinggi bintang-bintang yang sering kuhitung
Aku tetap berlari dan aku tak ingin tersaingi
Tapi aku tak mau otakku terpekati
Sebelum tiba waktunya diencerkan
Maka kunikmatilah masa-masa ini
Kusyukuri anugerah Tuhan yang masih berkenan memutar waktu
Untuk kuwarnai hari-hari
Dengan segala senyum, cerah, dan keoptimisan
Aku terus belari dengan pasti
Dengan mantap dan hati bersemi-semi
Tak perlu terlalu banyak asosiasi
Karena ku percaya Tuhan Maha Memberi
Dan aku percaya semua usaha, doa, dan sangka baikku
Dan segala keikhlasankau
Akan disulap Tuhan menjadi kebahagiaan yang aku inginkan
Yang akan menambah cahaya dari bintang-bintang yang kuhitung
Yang akan menamatkan lariku dengan garis finish yang membanggakan

Insya Allah dengan kesungguhan, dan semua ucapan baik yang kulontarkan
Ku bisa raih semua angan dan mimpi yang tak lagi jadi kenangan

Terbelenggu


Aku bagai anjing penjaga, hanya jadi menjaga bukan piaran tuannya
Sebebas-bebasnya yang telah diberikan rasanya aku tidak bisa menikmatinya
Bahkan segala fasilitas yang kumiliki rasanya tiada habis aku menggerutuinya
Memang tak layaklah diriku bersikap konyol seperti ini
Melewati batas tanpa pikir diujung kendali
Aku terasa sempit dan menyempitkan animasi
Hilang dari kelapangan dan kesenjangan
Aku terasa sesak melewati lebarnya pintu penjuru
Menyebrangi luasnya sungai atau menapaki jalan turun
Seperti terasa berat padahal mustahil kukatakan sukar
Siapakah yang mengikat diriku ini, siapa yang membekukan pikirku ini?
Hanya masalah itu kah? Hanya karena penantian akhir itukah aku seperti ini
Atau hanya karena persiapannya lah
Aku terlalu penuh dijejali dengan persaingan, nilai, angka, dan segala yang bisa dihitung
Aku merasa keberhasilah itu karena tingginya nilai
Karena besarnya angka atau dari segi materi yang terlihat semata.
Bukan itu salah! Barulah ayah-ibuku berkata, dan nasehat-nasehat guruku mulai tertata
Oh, rupanya tiada deras lagi aku memikirkan itu
Maka tolong siramilah aku dengan kesejukan air hujan
Yang menerpa membasuh wajahku
Menyadarkakanku, memperingatkanku apalagi yang kucari di dunia ini
Selain kebahagian, kedamaian, dan cinta
Dan sesungguhnya aku lebih dari cukup merasakan itu
Hanya saja aku yang tidak bisa menikmatinya
Karena kalbuku seakan tertutup dari kasih sayang oleh orang-orang yang berada di sekelilingku. 

Senin, 31 Desember 2012

Cinta dan Rintikan Hujan

Sekedar bait-bait puisi... (alay mungkin)

Dalam rintikan hujan sore itu 
Udara dingin namun tetap terasa sejuk
Sesejuk hati yang tengah kurasakan 

Rintikan hujan bagai nyanyian alam
Menyemarakkan hati yang tak lagi kelam
Seolah menandai kegembiraan hati ini,
yang telah terbuka padamu

Kini aku dan kamu semakin dekat
Kau penyejuk jiwaku dan akulah yang menentramkan hatimu
Kau seolah tunjukkan isyarat hatimu
Secara perlahan
Dengan tenang dan pasti 
Bahwa kau mencintaiku (?!?!) -> kepedean hahahah....

puisi ini sebenarnya ditulis pada 23, November 2012 

Penantian

Sekedar puisi sebagai suara hati

Ilalang bergoyang...
Diterpa angin lembut sang senja
Padi dan rumput menguning
Karena kemarau musim ini

Dalam derap langkah,
dan goyangan daun dari semilir angin
Hati ini terasa terbawa,
oleh tiupan angin menuju awan

Beginilah jadinya remaja labil
Bahwa sesungguhnya perasaan silih berganti
Tetapi kurasa hatai ini seperti salah
Salah untuk mengiyakan rasa itu

Bila benar sungguh cinta
Tapi kenapa kau masih sebut dia
Bila benar sungguh sayang
Apa kau yakin hanya ku di hatimu

Goyangan ilalang senja itu
Terasa menggoyangkan hatiku,
yang gerah akan kejelasan

Terangkanlah padaku
Benarkah cintamu hanya untukku

Tak Bisa Diibaratkan dengan Pohon

Ini sekedar puisi berisi curahan hati...

Kalau saja sebuah pohon memberikan buah sebagai hasil kerja keras orang yang merawatnya
Kalau saja sebuah pohon berkenan dengan baik hati memberikan oksigen
Kalau saja sebuah pohon selalu berikan kesejukan kala kita merasa gerah di bumi ini

Kalau saja pohon berikan sejuat kenaikan
Kalau saja pohon selalu menghargai siapa saja yang merawatnya
Kenapa manusia tidak bisa punya sifat seperti pohon?
Kenapa tidak semua bisa menghargai kerja keras orang lain

Buku, pena, pensil telah menjadi saksi
Mereka bisa bicara kalau sebenarnya hati pemiliknya tengah kecewa
Mereka tahu siapa yang sering memakai
Sampai mereka aus, rusak, dan habis
Karena dialah sang pemilik, yang tulus hati, kerja keras, dan ikhalas
Memakai merka untuk mneyelesaikan tugas
Bukan sekedar hanya mengerjakan
Tetapi mengerjakan dengan tulus hati
dengan ikhlas dan tanpa pamrih
dengan ketekunan,ketelitian, ikhtiha, dan istiqomah
Tapi kenapa semua itu tidak dihargai 
Semua kerja keras itu tak berubah seperti apa yang pemilik harapkan 

Kamis, 13 Desember 2012

Keheningan Cinta

Mungkin otakku terasa pekat untuk menggambarkan suasana hati
Mungkin mulutku bingung ingin berucap tuk ungkapkan semua yang terjadi
Ku tahu aku di sini, dalam surga kecil Tuhan terdiam
Hening, dan hanyut dalam perasaan

Kicauan burung, jangkrik, dan mekarnya mawar
Telah menjadi saksi akan perasaan yang tengah ada di dada
Perasaan kasih, sayang, kekaguman dan semua keindahan tentang seseorang
yang kini telah kudamba, yang kini kucintai

Namun, apakah engkau juga sama?
Apakah mimpiku denganmu sama
Apakah hati ini juga sama?
Apakah engkau sama-sama merasakan apa yang kurasa?

Sama merasakan cinta yang tulus
Cinta yang mungkin tak perlu terungkap
tak perlu berucap, tak berlu disampaikan langsung
tetapi terpenting dirasakan dengan hati
tetapi yang penting engkau mengerti dan memahami
Arti penting dari rasa cintaku padamu

Semoga engkau bisa menerimanya
karena aku sendiri tak tahu, samakah cinta yang kau rasa?
Mungkin kau memang butuh waktu, dan akupun juga
tak perlulah terungkap lebih dahulu
yang penting kita berdua merasakan hal yang sama
merasakan cinta, kasih, dan sayang yang tulus nan lembut
yang selalu membasahi kalbu kala geram memaksa menusuk
dan kala asa sedang tak berdaya

Semoga Tuhan senantiasa memberikan kita satu anugerah yang sama
Cinta yang tak terhingga  :)