CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Sabtu, 10 Mei 2014

LONDON PUN TAK TEGA DENGAN TUKANG SAMPAH INDONESIA

Mereka terlalu kuat, mereka terlalu rendah hati. Tak yakin aku bisa lakukan seperti mereka. Tukang sampah London akan jatuh ketika melihat keadaan Tukang Sampah Indonesia.
(Wilbur Ramirez)

                Wilbur Ramirez, tukang sampah London yang sangat giat dan bangga akan tugasnya. Baginya, tukang sampah, pemadam kebakaran, dan petugas fasilitas darurat lainnya adalah bagian terpenting dari Kota London. Wilbur menyukai tugasnya sebagai tukang sampah. Yap, mudah dan menyenangkan sekali pekerjaan itu bagi Wilbur. Hal ini disebabkan, London sudah memiliki sistem pemilihan sampah yang harus diterapkan semua warganya. Mereka harus memisahkan sampah yang dapat didaur ulang di kantong orange dan sampah yang tidak bisa didaur ulang pada kantong hitam. Apabila, mereka tak patuh, sudah ada peringatan tersendiri yang akan diberikan kepada pemerintah. Wilbur dan teman-temannya hanya mengangkut kantong-kantong tersebut pada trek mereka yang sudah dipisahkan. Tak jarang mereka menemukan sampah-sampah berharga. Sampah tersebut bisa berupa kamera, laptop, dan produk elektronik lainnya. Pekerjaan sebagai tukang sampah di London bukan suatu pekerjaan rendah. Hal ini dibuktikan dengan kesejahteraan keluarga Wilbur. Istrinya, Nikky, sangat bangga dengan Wilbur yang mampu menghidupi keluarga sekaligus membantu membersihkan lingkungan.

                Puas dan bangga dengan pekerjaanya Wilbur tertarik untuk menambah pengalamannya di Kota Jakarta. Ibukota Indonesia dengan 28 juta jiwa warganya yang terus bertumbuh tiap tahun. Pemerintahnya sedang berjuang menangani kasus sampah yang terus membabi buta, seiring meningkatnya populasi manusia di sana. Gedung-gedung pencakar langit yang Jakarta miliki hanyalah menjadi bayangan semu, karena dibalik itu, masih ada ribuan orang mengalami kemiskinan. Hal itu pula yang dirasakan 3000 tukang sampah Jakarta. Mereka yang tidak pernah diperhatikan, tetapi sesungguhnya merekalah yang rela membagi perhatiannya kepada sampah.

            Selama 10 hari, Wilbur tinggal bersama seorang tukang sampah Jakarta, yakni Imam Syafii. Imam Syafii adalah satu dari 3000 tukang sampah yang mengadu nasib di Kota Megapolitan tersebut. Melihat kenyataan pekerjaan yang dilakukan Imam, Wilbur sempat mengaku tak percaya. Bagaimana ia dikejutkan dengan gerobak yang digunakan Imam untuk mengangkut sampahnya, mengingat saat dulu dia di London, dia memiliki truk berteknologi tinggi yang sangat nyaman dan efisien. Wilbur hanya bisa tertawa, dan menganggap dirinya akan menjadi “keledai” untuk gerobak tersebut. Tak hanya itu kejutan yang diterima Wilbur, pada malam pertamanya, ia akan tidur pada kamar yang tak bisa disebut kamar bagi dirinya. Lebarnya tidak sampai satu depa dan panjangnya hanya sekitar 240 meter. Ruangan itu hanya untuk untuk tempat tidur, kran air, dan lalat-lalat yang berterbangan. Wilbur tak bisa membayangkan kalau tempat yang ia gunakan untuk tidur berada disamping gunungan sampah. Gunungan itu digunakan Imam dan kawan-kawannya untuk menampung sampah-sampah yang mereka dapatkan.

            Wilbur menemani Imam menjalani rutinitasnya. Imam mulai memunguti sampah sebelum matahari terik menyinari. Imam harus memunguti sampah-sampah untuk kurang lebih 100 rumah. Gajinya hanya cukup untuk membayar rumah sewanya. Perlu tugas dan waktu lagi bagi Imam untuk mendapatkan uang, anggaran membeli makanan. Tetapi bagi Wilbur, gaji yang diterimanya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh keluarga.

            Imam harus menerima seluruh sampah yang ada di rumah-rumah tersebut. Mereka tidak mau peduli apakah sampah sudah dipilah atau belum. Mereka hanya memberikannya kepada Imam dan membayarnya di akhir bulan. Mereka bahkan meminta Imam, mencucikan tempat sampah, menyapu halaman rumah, dan bahkan membersihkan selokan. Bagi Wilbur, ini sudah berbeda pekerjaan. Tidak seharusnya ini dilakukan oleh tukang sampah seperti Imam. Jika di Inggris, pekerjaan ini sudah ada yang menangani sendiri. Ini tidak adil dan sepadan dengan gaji yang rumah-rumah mewah itu berikan kepada Imam.


            Satu lagi hal yang membuat Wilbur terheran dengan kekebalan hati Imam dan kawan-kawannya. Gunungan sampah sebagi pos penampungan mereka sangat jarang didatangi truk sampah dari pemerintah. Bahkan sampah di tempat tersebut selalu ditambah oleh kelompok tukang sampah daerah lain. Ironisnya, Imam dan teman-temannya tidak mampu mengusirnya. Mereka sudah terlalu lemah dan termakan kolusi serta ancaman mereka. Imam dan kawan-kawannya hanya bisa diam, takut apabila pemberontakan malah akan membuat diri mereka kehilangan pekerjaan.

            Wilbur berusaha keras untuk memahami keadaan Imam dan kawan-kawannya. Tukang sampah di Indonesia jauh berbeda dengan tukang sampah di Inggris. Mereka bahkan tidak memikirkan pensiun, asuransi, bahkan layanan kesehatan. Tukang sampah di Indonesia hanya bisa menerima kenyataan dengan berdoa dan pasrah. Mereka seakan sudah terlalu kalah dengan keserakahan dan keangkuhan warga Jakarta lainnya. Imam dan kawan-kawannya sudah berusaha untuk bergerak meningkatkan kesejahteraan. Tapi usaha mereka tak pernah direspon, mereka seakan disia-siakan. Mereka sekedar dicap sebagai tukang sampah, orang rendah tanpa jabatan. Padahal sesungguhnya mereka sangat berjasa pada kita dan lingkungan.


            Wilbur merasa tukang sampah Indonesia terlalu berat tugas dan tanggungannya. Dirinya merasa tak yakin dapat bertahan seperti kondisi Imam dan kawan-kawannya. Sedang mereka, sudah berpuluh-puluh tahun menjalani ini, tak pernah berubah, dan terus bertambah lemah. Wilbur muak dengan semua keberatan yang dialami tukang sampah Indonesia. Tapi dirinya sangat terkesima dengan sikap Imam dan teman-temannya. Di tengah kondisi tersebut, mereka tetap teguh melaksanakan tugas, mencari nafkah demi keluarga. Imam dan kawan-kawannya mengajari Wilbur untuk selalu bersyukur menerima keadaan, untuk selalu memiliki kerendah-hatian. Bahwa segalanya pasti akan mendapat balasan setimpal yang diatur oleh Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar